Bisnis Waxing Salon: Modal Kecil, Profit Tinggi
Di tengah persaingan industri beauty yang semakin kompetitif, salon owner dituntut lebih smart dalam memilih layanan. Bukan hanya menyajikan service yang terlihat “wah”, tapi yang bisa cepat balik modal, dan konsisten menghasilkan profit. Salah satu layanan yang sering underrated, padahal sangat powerful dalam menghasilkan cashflow adalah waxing treatment salon.
Untuk Lash Sisters yang sedang merintis atau ingin scale up salon, waxing bisa menjadi jawaban paling realistis. Bahkan, banyak salon owner menyebut waxing sebagai layanan yang lebih profitable dibanding facial. Kenapa bisa begitu? Mari kita bahas dengan angka sederhana dan logika bisnis yang masuk akal.
Modal Usaha Waxing: Relatif Kecil, Risiko Rendah
Jika kita bicara soal modal usaha waxing, angkanya jauh lebih friendly dibanding layanan lain. Secara garis besar, modal awal waxing meliputi:
-
Wax heater
-
Wax (hard wax / soft wax)
-
Spatula & strip
-
Bed treatment
-
Aftercare product
Dengan estimasi modal alat sekitar Rp3-5 juta, Lash Sisters sudah bisa mulai menjalankan layanan waxing profesional. Tidak perlu mesin mahal, tidak perlu menyediakan consumable yang rumit, dan minim maintenance.

Bandingkan dengan facial treatment yang membutuhkan mesin, serum khusus, dan training lebih panjang. Dari sisi investment, waxing jelas lebih ringan.
Harga Treatment vs Waktu Pengerjaan
Inilah alasan utama bisnis waxing salon sangat menarik secara cashflow. Rata-rata harga waxing di salon kota besar:
-
Underarm waxing: Rp80.000 - Rp150.000
-
Brazilian waxing: Rp250.000 - Rp400.000
-
Full leg waxing: Rp200.000 - Rp350.000
Waktu pengerjaan? Hanya 15-30 menit per treatment.
Artinya, dalam 1 jam, Lash Sisters bisa melayani 2-3 klien. Jika satu treatment rata-rata Rp150.000, potensi omzet per jam bisa mencapai Rp300.000-450.000. Dengan margin tinggi dan consumable yang murah, waxing menjadi layanan dengan profit yang sangat sehat.
Kenapa Waxing Lebih Profitable daripada Facial?
|
Aspek Bisnis |
Waxing Treatment |
Facial Treatment |
|
Modal Awal |
Relatif kecil. Alat simple dan tidak membutuhkan mesin mahal |
Lebih besar karena butuh mesin, serum, dan device khusus |
|
Waktu Pengerjaan |
Rata-rata 15-30 menit |
Lebih lama, bisa 60-90 menit |
|
Omzet per Jam |
Tinggi karena bisa melayani 2-3 klien dalam 1 jam |
Lebih terbatas, umumnya hanya 1 klien per jam |
|
Repeat Order |
Cepat, setiap 3-4 minggu sekali |
Lebih jarang, 1-2 bulan sekali |
|
Biaya Bahan |
Rendah dan mudah dikontrol |
Lebih tinggi karena produk skincare premium |
|
Skill Dependency |
Lebih mudah distandardisasi dan scalable |
Sangat bergantung pada skill therapist |
|
Upselling Opportunity |
Mudah dikombinasikan dengan body care atau add-on service |
Upselling lebih terbatas dan butuh edukasi ekstra |
|
Risiko Treatment |
Relatif rendah jika teknik benar |
Lebih sensitif, risiko iritasi dan komplain lebih tinggi |
Waxing sebagai Entry Point Bisnis Salon
Untuk Lash Sisters yang baru mau buka usaha, waxing bisa dibilang adalah entry point ideal. Bahkan jika salon berawal dari lash atau brow service, menambahkan waxing bisa langsung meningkatkan nilai rata-rata transaksi harian.
Strategi ini juga sejalan dengan insight bisnis beauty yang dibahas di artikel ini.
Dengan positioning yang tepat, waxing bukan hanya layanan tambahan, tapi bisa jadi core income stream.

Saatnya Naik Level Lewat Edukasi yang Tepat
Waxing memang terlihat simple, tapi tanpa teknik yang benar, hasilnya bisa kurang maksimal dan client jadi tidak loyal. Inilah kenapa banyak salon owner memilih belajar langsung dari kelas profesional.
Dengan mengikuti kelas waxing yang terstruktur, Lash Sisters bisa:
-
Menghitung balik modal dengan lebih presisi
-
Menentukan pricing yang profitable
-
Meningkatkan speed tanpa mengorbankan kualitas
-
Membangun bisnis waxing salon yang scalable
Waxing bukan sekadar hair removal namun bisa jadi strategic service untuk salon yang ingin cepat grow, stabil, dan profitable.



Leave a comment
Please note, comments need to be approved before they are published.